<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://q.quora.com/_/ad/cdf864df410c4a65a91da8ac8d6f477e/pixel?tag=ViewContent&amp;noscript=1">
REDEEM

Advocacy Marketing Blog

2 min read

Rahasia Sukses Terapkan Advocacy Marketing Dalam 3 Bulan

.

Picture2

Dalam bisnis, Anda tak bisa hanya mengandalkan keberuntungan semata. Anda membutuhkan sistem yang bisa mendukung bisnis dengan baik sekaligus mengembangkannya dari waktu ke waktu.

Dalam hal ini, advocacy marketing merupakan salah satu strategi terbaik untuk dilakukan. Tak hanya mengandalkan sales person dan tim marketing, advocacy marketing juga memanfaatkan loyalitas konsumen untuk melakukan referral kepada konsumen lainnya.

Masalahnya, advocacy marketing seringkali membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan hasilnya, terlebih lagi jika Anda melakukannya secara clueless. Berikut rahasia keberhasilan advocacy marketing hanya dalam 3 bulan saja. Simak informasinya berikut ini:

Bulan pertama: buat desain advocacy marketing yang akan dijalani

Ada dua tipe dari advocacy marketing yang perlu Anda tahu, yaitu employee advocacy dan consumer advocacy. Employee advocacy adalah bentuk advocacy marketing yang seringkali digunakan oleh B2B companies, di mana karyawan dalam suatu perusahaan bertindak sebagai brand advocate. Dalam hal ini, karyawan harus dibekali dengan informasi mendalam mengenai brand Anda sehingga mereka bisa memberikan rekomendasi kepada konsumen untuk memilih produk yang tepat. Di luar dunia kerja, karyawan yang menjadi brand advocate idealnya juga rutin membagikan informasi mengenai sebuah brand melalui akun media sosial pribadi mereka.

Sedangkan consumer advocacy lebih berfokus pada referral yang dilakukan oleh konsumen. Dalam hal ini, konsumen yang merupakan penggemar brand Anda bisa melakukan referral dengan menyebarkan informasi terkait produk melalui media sosial yang mereka miliki. Secara offline, konsumen yang menjadi brand advocate bisa mereferensikan sebuah produk dari mulut ke mulut kepada orang-orang yang ada di lingkungan mereka. Nah, di bulan pertama, tugas Anda adalah mendesain advocacy marketing seperti apa yang akan dijalani, apakah employee advocacy atau consumer advocacy?

Bulan kedua: mulai rekrutmen brand advocate

Setelah memastikan tipe advocacy marketing mana yang Anda pilih, maka di bulan kedua saatnya Anda menentukan siapa yang bisa menjadi brand advocate. Secara umum, ada beberapa kriteria dari brand advocate yang baik yaitu familiar dengan brand dan produk Anda, memiliki karakter yang aktif secara sosial, secara personal merasa termotivasi atau terinspirasi dengan brand Anda, dan memiliki pengaruuh yang baik di media sosial. Tak perlu harus mencari sosok yang terkenal, orang biasa yang memenuhi beberapa kriteria tersebut juga bisa dijadikan brand advocate.

Dalam mencari brand advocate, penting juga untuk menunjukkan rewards yang bisa mereka dapatkan. Untuk employee advocate misalnya, rewards bisa berupa bonus gaji, penambahan hari libur, kenaikan jabatan atau juga hadiah lainnya seperti gadget maupun kendaraan. Besar kecilnya rewards bisa disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Sedangkan untuk consumer advocate, rewards-nya bisa berupa diskon saat membeli produk, voucher belanja, atau juga hadiah seperti tiket pesawat gratis untuk liburan.

Bulan ketiga: jalankan campaign melalui konten-konten menarik

Di bulan terakhir ini, Anda hanya perlu menjalankan advocacy marketing campaign sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Media sosial menjadi tempat terbaik untuk menyebarluaskan campaign yang Anda buat. Jadi pastikan selalu berinovasi dengan konten yang menarik untuk mendapatkan perhatian konsumen secara luas. Jangan lupa juga untuk selalu memonitor engagement yang terjadi antara konsumen dengan brand Anda.

Konsistensi juga diperlukan dalam menjalankan advocacy marketing selama 3 bulan ini. Meski hasilnya tidak langsung terlihat, tapi setidaknya dalam 3 bulan Anda akan menyadari bahwa mulai tercipta brand awareness dan adanya hubungan yang lebih baik antara brand dengan konsumen.

 

Featured