Build vs Buy Loyalty Platform: In-House vs Vendor, Mana Lebih Efektif?

Topics:

Agu 25, 2021 • 16 min read

WhatsApp Image 2021-08-19 at 11.18.48 AM

Dalam membangun program loyalty, salah satu keputusan paling penting yang harus diambil bisnis adalah: membangun loyalty platform sendiri (build) atau menggunakan vendor pihak ketiga (buy).

Keputusan ini bukan sekadar soal teknologi. Ini juga menyangkut waktu peluncuran, biaya, fleksibilitas, kontrol data, beban operasional, hingga kecepatan bisnis beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan.

Banyak perusahaan awalnya membangun sendiri karena terlihat lebih fleksibel. Di sisi lain, banyak juga yang memilih vendor karena ingin lebih cepat jalan tanpa harus membentuk tim teknis besar dari nol. Keduanya bisa sama-sama tepat, tergantung kebutuhan bisnis.

Mari membahas perbedaan build vs buy loyalty platform, termasuk pro dan kontra masing-masing pendekatan, supaya Anda bisa memilih opsi yang paling efektif untuk program loyalty bisnis Anda.

Loyalty Platform vs Loyalty Software: Apa Bedanya?

Sebelum masuk ke debat build vs buy, penting untuk meluruskan dua istilah yang sering digunakan bergantian padahal memiliki nuansa berbeda: loyalty platform dan loyalty software.

Loyalty Platform

Merujuk pada ekosistem teknologi yang lebih luas dan terintegrasi; mencakup infrastruktur, engine rules, analytics dashboard, integrasi API, dan seringkali marketplace reward. Platform bersifat scalable dan multi-tenant, dirancang untuk mendukung seluruh lifecycle program loyalty dari satu tempat. Contoh: platform SaaS loyalty yang diakses via cloud dengan fitur end-to-end.

Loyalty Software

Lebih spesifik mengacu pada aplikasi atau modul perangkat lunak yang menjalankan fungsi loyalitas tertentu; misalnya sistem poin, stamp card digital, atau referral engine. Loyalty software bisa berdiri sendiri atau menjadi bagian dari sistem yang lebih besar. Cakupannya lebih sempit dibanding platform, lebih fokus pada fitur operasional tertentu.

Singkatnya:

      • Semua loyalty platform mengandung loyalty software di dalamnya, tapi tidak semua loyalty software bisa disebut platform.
      • Ketika bisnis berbicara soal "membangun program loyalty secara serius", yang dibutuhkan biasanya adalah sebuah loyalty platform; bukan sekadar software point-tracking sederhana.

Dalam konteks debat build vs buy, yang paling sering dipertimbangkan adalah membangun sendiri atau menggunakan 3rd party untuk loyalty platform yang komprehensif.

Memahami Dua Opsi: Build & Buy

Secara sederhana, ada dua pilihan yang bisa dipilih perusahaan ketika memutuskan ingin menjalankan program loyalty digital:

1. Build (Bangun Sendiri)

Tim engineering internal; atau agensi/kontraktor yang disewa, membangun loyalty platform dari nol sesuai spesifikasi bisnis Anda. Arsitektur, database, logic reward, dashboard, hingga integrasi semuanya dikerjakan secara custom. Anda memiliki kendali penuh atas setiap detail sistem.

2. Buy (Pakai Vendor / 3rd Party)

Perusahaan memilih loyalty platform dari vendor yang sudah ada di pasar; biasanya bermodel SaaS (Software-as-a-Service) dengan subscription bulanan atau tahunan.

Vendor telah membangun, menguji, dan mengoperasikan sistemnya untuk banyak klien. Anda tinggal konfigurasi sesuai kebutuhan dan mulai menjalankan program.

Membangun Loyalty Platform In-House: Pros & Cons

Membangun sendiri punya daya tarik tersendiri, terutama bagi perusahaan yang memiliki tim tech yang kuat dan kebutuhan bisnis yang sangat spesifik. Berikut analisis lengkapnya:

Pros

Cons

Customization Tanpa Batas

Setiap aspek sistem; dari struktur poin, tier logic, hingga tampilan UI; bisa dirancang 100% sesuai kebutuhan unik bisnis Anda. Tidak ada kompromi karena keterbatasan fitur vendor.

Biaya Awal yang Sangat Tinggi

Membangun loyalty platform yang robust membutuhkan investasi signifikan; mulai dari biaya developer, desainer, QA, infrastruktur server, hingga lisensi komponen third-party. Angkanya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Data Ownership Penuh

Seluruh data pelanggan, perilaku transaksi, dan insight program tersimpan di infrastruktur milik sendiri. Tidak ada data yang "lewat" sistem pihak ketiga.

Waktu Pengembangan 6–12 Bulan (atau Lebih)

Bahkan dengan tim yang berpengalaman, membangun sistem loyalty yang lengkap, aman, dan scalable membutuhkan waktu berbulan-bulan. Selama itu, program loyalty Anda belum bisa berjalan.

Integrasi Mendalam dengan Sistem Internal

Sistem bisa dibangun untuk menyatu sempurna dengan ERP, CRM, POS, atau legacy system yang sudah ada; tanpa bergantung pada ketersediaan koneksi dari vendor.

Perlu Tim Maintenance In-House Permanen

Setelah launch, sistem butuh tim yang terus menjaga; bug fixing, security patches, server monitoring, pembaruan fitur. Ini adalah biaya operasional tersembunyi yang sering dilupakan.

Tidak Ada Recurring Cost ke Vendor

Setelah sistem selesai dibangun, tidak ada tagihan subscription bulanan yang terus berjalan. Secara teori, biaya jangka panjang bisa lebih rendah jika sistem berjalan stabil tanpa banyak perubahan.

Risiko Teknikal yang Tinggi

Sistem yang dibangun sendiri rentan terhadap masalah skalabilitas, security vulnerabilities, dan technical debt; terutama jika tim tidak berpengalaman dalam membangun sistem loyalty enterprise.

Keunggulan Kompetitif yang Terproteksi

Fitur-fitur inovatif yang Anda bangun tidak bisa "ditiru" oleh kompetitor yang menggunakan vendor yang sama, karena sistem Anda unik dan tidak ada di pasaran.

Reinventing the Wheel

Banyak fitur dasar loyalty (poin expiry, tier upgrade, reward catalog) sudah "solved problems" di industri. Membangunnya dari nol berarti menghabiskan resource untuk masalah yang sebenarnya tidak perlu dipecahkan ulang.

Independensi dari Roadmap Vendor

Anda tidak perlu menunggu vendor merilis fitur yang Anda butuhkan. Tim internal bisa langsung prioritaskan development sesuai kebutuhan bisnis.

Ketergantungan pada Personil Kunci

Jika developer utama yang membangun sistem resign, pengetahuan tentang arsitektur sistem bisa hilang bersamanya; menciptakan risiko operasional yang serius.

Membeli dari Vendor (Loyalty Platform 3rd Party): Pros & Cons

Memilih loyalty platform dari vendor berarti Anda memanfaatkan sistem yang sudah teruji, dirancang khusus untuk menjalankan program loyalty di berbagai skala bisnis. Ini bukan sekadar "membeli software"; Anda membeli keahlian bertahun-tahun yang sudah diakumulasi vendor.

Pros

Cons

Time-to-Market yang Cepat (1–3 Bulan)

Vendor sudah menyediakan fondasi yang matang. Konfigurasi, onboarding, dan go-live bisa diselesaikan dalam hitungan minggu; bukan bulan. Program loyalty Anda bisa langsung menghasilkan dampak bisnis lebih awal.

Tingkat Kustomisasi Lebih Terbatas

Setiap platform vendor punya batas kemampuan konfigurasi. Jika bisnis Anda memiliki kebutuhan yang sangat spesifik atau tidak lazim, ada kemungkinan fitur yang diinginkan belum tersedia atau perlu custom development tambahan.

Proven System & Battle-Tested

Platform vendor sudah digunakan oleh banyak klien di berbagai industri. Artinya, edge cases, bug-bug umum, dan kelemahan sistem sudah ditemukan dan diperbaiki; bukan oleh Anda, tapi oleh klien-klien sebelumnya.

 

Recurring Subscription Cost

Model berlangganan berarti biaya terus berjalan selama Anda menggunakan platform. Dalam jangka sangat panjang (5+ tahun), total biaya kumulatif berpotensi melebihi biaya build; meskipun ini jarang terjadi jika memperhitungkan biaya maintenance sistem sendiri.

Vendor Handle Maintenance & Infrastruktur

Update fitur, security patches, server uptime, dan pemeliharaan rutin adalah tanggung jawab vendor. Tim internal Anda bisa fokus pada hal yang benar-benar strategis: merancang program yang menarik pelanggan.

Ketergantungan ke Vendor (Vendor Lock-in)

Jika vendor mengalami masalah bisnis, menaikkan harga signifikan, atau menghentikan layanan, perpindahan ke sistem lain bisa menjadi proses yang rumit dan memakan waktu.

Biaya Awal yang Jauh Lebih Rendah

Model subscription memungkinkan biaya yang lebih terprediksi dan terjangkau di awal; tanpa perlu investasi besar di hari pertama. Cocok untuk bisnis yang ingin memulai dengan modal efisien.

Data Melewati Infrastruktur Pihak Ketiga

Data pelanggan dan transaksi diproses di server vendor. Untuk industri tertentu dengan regulasi data yang ketat, ini bisa menjadi concern yang perlu diklarifikasi secara kontraktual.

Best Practices Sudah Built-In

Vendor yang berpengalaman mengembangkan fitur berdasarkan data dari ratusan program loyalty. Anda otomatis mendapatkan fitur-fitur yang sudah terbukti efektif meningkatkan engagement pelanggan.

Roadmap Tidak Selalu Selaras

Fitur yang Anda butuhkan mungkin ada di roadmap vendor, tapi timeline rilisnya tidak selalu sesuai dengan prioritas bisnis Anda.

Dedicated Support & Expertise

Vendor menyediakan tim support, dokumentasi, dan seringkali dedicated customer success manager yang membantu Anda memaksimalkan platform; bukan hanya menyelesaikan masalah teknis.

 

Scalability Teruji

Platform vendor dirancang untuk skalabilitas sejak awal. Saat transaksi melonjak di musim peak, sistem sudah siap tanpa Anda perlu khawatir soal server capacity atau load balancing.

 

Fitur Terus Berkembang

Vendor yang baik secara aktif merilis fitur baru berdasarkan masukan klien dan tren industri. Anda mendapatkan akses ke inovasi ini tanpa harus membangunnya sendiri.

 

Build vs Buy Loyalty Platform: Mana yang Lebih Efektif?

Jawaban paling jujur adalah: tergantung tujuan bisnis. Namun, kalau dilihat dari sisi efisiensi, kecepatan, dan pengurangan beban operasional, banyak bisnis akan lebih diuntungkan dengan model buy. Berikut cara melihatnya secara praktis.

Build lebih cocok jika:

      • Bisnis punya kebutuhan loyalty yang sangat unik
      • Perusahaan memiliki tim teknologi internal yang kuat
      • Kontrol penuh atas data dan arsitektur sistem menjadi prioritas utama
      • Perusahaan siap investasi besar di awal
      • Waktu launching bukan faktor yang mendesak

Buy lebih cocok jika:

      • Bisnis ingin launch lebih cepat
      • Ingin mengurangi biaya dan risiko pengembangan
      • Tidak ingin membentuk tim teknis besar dari nol
      • Butuh platform yang sudah proven dan siap pakai
      • Ingin fokus pada strategi program loyalty, bukan membangun teknologinya

Untuk sebagian besar bisnis, terutama yang ingin segera menjalankan program loyalty dan melihat hasil lebih cepat, buy sering kali menjadi pilihan yang lebih efektif.

Wrap up!

Debat build vs buy dalam konteks loyalty platform pada akhirnya adalah tentang alokasi sumber daya yang paling strategis. Kedua opsi memiliki tempatnya, tapi untuk sebagian besar perusahaan di luar kategori tech giant, argumen untuk "buy" secara konsisten lebih kuat dari "build".

Jika Anda sudah memutuskan untuk mengambil jalur "buy" dan ingin memulai dengan platform yang sudah teruji di pasar Indonesia, Tada adalah pilihan yang layak dipertimbangkan.

Tada dirancang sebagai platform loyalty end-to-end yang memungkinkan bisnis dari berbagai industri membuat dan mengelola program loyalty secara efisien, dengan ekosistem reward yang luas, kemampuan integrasi yang fleksibel, dan dukungan tim yang berpengalaman di ranah loyalty & engagement.

Alih-alih membangun dari nol selama berbulan-bulan, Tada memungkinkan Anda fokus pada hal yang paling penting: membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan Anda.

Siap memulai program loyalty yang efektif? Request demo kami sekarang!

Request Our Demo

Profile

Nuraini

Content marketing specialist