<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://q.quora.com/_/ad/cdf864df410c4a65a91da8ac8d6f477e/pixel?tag=ViewContent&amp;noscript=1">
REDEEM

Advocacy Marketing Blog

2 min read

Dibanding Diskon, Experiental Rewards Ternyata Lebih Diminati Konsumen

.

Picture7Selama ini banyak pemilik usaha yang menggunakan diskon sebagai strategi promosi untuk menarik minat konsumen. Meski terkesan efektif, namun promosi berbasis reward ternyata jauh lebih diminati berdasarkan survei yang dilakukan di Amerika.

Survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar 48 persen konsumen merasa tidak puas hanya dengan diskon atau bonus produk dari brand yang mereka sukai. Banyak konsumen yang lebih berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bersifat experiental.

Menurut para ahli, experiental rewards memang jauh lebih efektif digunakan di masa ini, di mana konsumen dari sebuah brand berasal dari berbagai kalangan berbeda. Contoh mudahnya, konsumen dengan tingkat ekonomi tinggi mungkin tidak akan puas dengan potongan harga atau produk gratisan karena mereka memiliki kemampuan untuk membelinya. Konsumen semacam ini akan lebih puas dengan experiental rewards, di mana hadiah yang didapat dari brand bisa memberikan pengalaman emosional.

Dari survei tersebut, diketahui bahwa 44 persen konsumen lebih menyukai experiental rewards berupa tiket pesawat. Dengan mendapatkan tiket pesawat gratis ke suatu kota atau negara, konsumen berkesempatan melakukan perjalanan liburan yang tentunya akan memberikan pengalaman tersendiri. Sementara itu, 56 persen lainnya lebih suka menerima rewards berupa tiket untuk menonton sebuah event, mulai dari pertandingan olahraga, film di bioskon, konser musik, atau pertunjukan teater.

Experiental marketing sendiri mulai marak di sejak tahun 2008, di mana masyarakat lebih suka menggunakan tabungan mereka untuk mencari sesuatu yang bersifat menghibur dan memberikan pengalaman. Rewards semacam ini memamg lebih cocok diaplikasikan di daerah dengan penduduk yang memiliki tingkat pendapatan tinggi, di mana mereka tidak terlalu tertarik dengan promo potongan harga dan lebih suka mendapatkan layanan VIP.

Hal ini juga sangat beralasan, sebab survei tersebut ternyata menunjukkan bahwa di era saat ini, masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas lebih suka diperlakukan dengan spesial dari pada memperoleh keuntungan dalam bentuk materi. Dengan kata lain, konsumen semacam ini suka jika mendapat perhatian atau treatment khusus dari brand yang mereka sukai. Inilah yang menjadi dasar para marketer mengubah strategi pemasaran mereka, dari loyalty rewards menjadi experiental rewards.

Untuk bisa mengaplikasikan experiental rewards dengan tepat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pastikan dulu target konsumen Anda. Konsumen di usia 20-an mungkin tidak terlalu suka menerima rewards berupa tiket pertunjukan teater dan lebih senang dengan tiket konser musik. Begitu juga dengan konsumen berusia 40 ke atas, tak akan merasa terkesan kalau Anda memberikan rewards liburan gratis ke Disneyland atau taman hiburan lainnya.

Kedua, Anda harus mencari rewards yang berkesan eksklusif. Konsumen ingin menjadi bagian dari brand yang mereka sukai dan akan lebih tertarik jika menerima rewards yang berkesan eksklusif. Salah satu contoh yang bisa Anda lakukan adalah dengan memberikan kesempatan dinner bersama dengan brand ambassador dari produk Anda. Hal semacam ini tentu tidak akan bisa didapatkan pada kesempatan lain, sehingga memiliki nilai eksklusivitas yang tinggi.Atau Anda juga bisa mengajak konsumen yang beruntung untuk bergabung dari iklan produk yang ditayangkan di televisi.

Kunci utama dari experiental rewards adalah mengenali dengan baik keinginan konsumen dan mewujudkannya menjadi nyata. Sudah terbukti, konsumen yang merasa terpuaskan dari segi emosional, akan lebih loyal terhadap sebuah brand.

 

Topics: Reward

Featured