<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://q.quora.com/_/ad/cdf864df410c4a65a91da8ac8d6f477e/pixel?tag=ViewContent&amp;noscript=1">
Request a Demo

TADA Marketing & Customer Retention Blog

2 min read

Mengetahui Penyebab Kegagalan Program Loyalty Paling Umum

.

Berbagai perusahaan semakin gencar menerapkan program loyalty terutama dalam beberapa tahun belakangan ini. Banyak yang menerapkan sistem poin untuk diberikan kepada customer di setiap nominal pembelian tertentu, kemudian poinnya yang terkumpul bisa ditukarkan dengan produk atau layanan sesuai ketentuan. Namun, meski gencar dilakukan, banyak program loyalty yang tidak berhasil menarik customer. Jadi, akhirnya targetnya pun tidak tercapai. Apa penyebabnya?

Konsep Program Loyalty Sulit Memenuhi Ekspektasi Customer

Pada umumnya, program loyalty dirancang oleh para marketer yang benar-benar kompeten di bidangnya, dengan tujuan supaya bisnis mereka sukses. Apalagi, kini semakin jelas bahwa satu customer lama yang berhasil dipertahankan oleh perusahaan, akan lebih menguntungkan daripada mendapatkan satu customer baru. Konsep pemberian reward kepada frequent buyers sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Namun, apa sebenarnya yang menjadi kendala untuk program loyalty yang sederhana ini?

8 (udah, 83)

Tantangan Program Loyalty yang Menjadi Penyebab Kegagalan Terbesar

Telah banyak riset yang dilakukan selama tahun-tahun belakangan ini, hingga ditemukan bahwa ada banyak aspek program loyalty yang membuatnya sulit mencapai target. Tantangan utamanya yakni kesulitan dalam mengetahui tujuan bisnis yang jelas, padahal perusahaan memahami bahwa program loyalty bisa memberikan banyak keuntungan.

Banyak bisnis yang sudah membuat kalkulasi untuk pemberian reward yang dapat membuat customer loyal. Namun, pemberian tersebut masih belum cukup untuk membangun loyalitas customer. Jadi, sebenarnya ada aspek psikologi konsumen yang perlu dipahami, di mana hal tersebut dapat mempengaruhi reward yang diberikan oleh bisnis Anda, hingga mampu menarik customer untuk membeli.

Cara Kerja Program Loyalty Secara Sederhana

Menciptakan program loyalty yang sukses dimulai dengan menentukan apa yang ingin Anda capai dari upaya marketing tersebut. Hanya dengan tujuan bisnis yang benar-benar jelas, barulah Anda bisa menentukan strategi yang layak untuk diterapkan, serta memperkirakan bahwa itu efektif ketika dilaksanakan. Untuk itulah, ada hal-hal yang perlu Anda perhatikan baik-baik mengenai program loyalty ini, terutama tentang apa yang tidak bisa Anda peroleh darinya.

Anda perlu mencatat bahwa program loyalty tidak dapat menciptakan loyalitas. Loyalitas sendiri berarti kesetiaan. Jika Anda loyal terhadap sesuatu, misalnya sebuah produk brand X, maka Anda jadi sulit dipercaya. Adapun yang dimaksud yaitu, Anda pasti akan selalu memberikan dukungan positif. Bahkan, jika misalnya ada inovasi baru dari produk tersebut yang tidak sesuai dengan kesukaan Anda. Kkemungkinan besar Anda tetap akan membelinya. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku demikian untuk tujuan komersil, karena loyalitas customer seperti itulah yang justru sangat diperlukan.

Upaya Marketing untuk Menumbuhkan Loyalitas Customer

Catatan penting yang perlu Anda perhatikan yakni, Anda bisa memahami bahwa menumbuhkan loyalitas customer itu tidaklah mudah. Anda perlu menerapkan strategi marketing yang tepat untuk melakukannya. Tidak hanya itu saja, Anda juga perlu menghindari kesalahan yang bisa membuat strategi Anda gagal. Umumnya, kesalahan tersebut di antaranya seperti tidak mengembangkan program loyalty sehingga membuat customer bosan dan beralih, memberikan reward kepada customer yang tidak loyal dan non-member sehingga membuat anggaran marketing terbuang percuma, memberikan janji promosi berlebihan yang pada akhirnya tidak bisa Anda tepati sendiri.

Program loyalty merupakan strategi marketing yang sangat menguntungkan, namun Anda memang perlu menerapkannya dengan hati-hati. Diperlukan upaya serius untuk bisa mencapai target program tersebut. Apapun bidang industri Anda, program loyalty terbukti efektif untuk mengurangi angka churn, meningkatkan penjualan dan profit, serta membantu perusahaan untuk memberikan pelayanan yang penuh value kepada customer.

Clara Alverina
By Clara Alverina

I'm marketing enthusiastic and inherently understands that the customer is the single most valuable asset an organization can have, and driven by the unrelenting pursuit of customer-retention focus, engagement and customer experience.

Featured