<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://q.quora.com/_/ad/cdf864df410c4a65a91da8ac8d6f477e/pixel?tag=ViewContent&amp;noscript=1">

Advocacy Marketing Blog

2 min read

Menumbuhkan Bisnis Lewat Advocacy Marketing, Begini Cara Kerjanya

.

 men-shaking-hands_23-2147669780

Survey yang dilakukan oleh research organization Nielsen, menunjukkan bahwa 83 persen konsumen lebih mempercayai rekomendasi produk atau jasa dari orang yang mereka kenal saat berbelanja. Hal ini menjadi salah satu bukti mengapa advocacy marketing sangat powerful dan memiliki peran penting dalam mengembangkan bisnis Anda.

Dalam hal ini, advocacy marketing memang bekerja dengan bantuan konsumen, di mana mereka menjadi orang yang melakukan referral produk atau jasa kepada calon pembeli lainnya.

Mendapatkan kepercayaan konsumen dan memastikan setiap konsumen selalu merasa puas dengan produk atau jasa Anda jelas bisa meningkatkan penjualan. Tapi ini bukanlah goal terakhir dari advocacy marketing. Melalui advocacy marketing, customer satisfaction atau kepuasan pelanggan adalah awal yang bisa menggerakkan konsumen untuk mereferensikan produk dan jasa Anda kepada orang-orang terdekat mereka. Bedasarkan survey Nielsen tadi, hal semacam inilah yang bisa membantu meningkatkan penjualan jauh lebih besar.

Dalam hal ini, advocacy marketing tidak bisa hanya dilakukan oleh tim pemasaran saja. Advocacy marketing sendiri merupakan sebuah organizational effort, di mana setiap orang dalam perusahaan Anda memiliki peran sama pentingnya. Untuk membuat advocacy marketing berhasil, seluruh divisi dalam perusahaan harus berada dalam satu garis yang sama. Mulai dari memprospek konsumen sampai dengan memberikan pengalaman yang baik untuk mereka, semuanya harus dilakukan dengan konsisten. Tak hanya divisi yang berhadapan langsung dengan konsumen yang perlu mengetahui value dari produk yang dijual, namun juga divisi lainnya yang berada di belakang layar. Hal ini akan membantu terciptanya sebuah sinergi untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.

Anda juga perlu menanamkan pola pikir customer-centric. Segala hal yang dilakukan perusahaan harus dilihat dari sudut pandang konsumen. Dalam hal ini, dibutuhkan pelayanan yang lebih personal dengan mempertimbangkan kebutuhan dari masing-masing konsumen. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak media untuk berkomunikasi dengan konsumen secara langsung. Email, YouTube, media sosial, blog dan website, semuanya bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan komunikasi dengan konsumen sesuai dengan kebutuhan mereka.

Anda pun harus memikirkan konten seperti apa yang akan digunakan untuk membangun engagement dengan konsumen. Konten yang hanya melulu berisi iklan bukan pilihan terbaik. Anda bisa memperbanyak konten yang sifatnya informatif sehingga lebih bermanfaat untuk konsumen. Konten yang memperlihatkan seperti apa sistem kerja perusahaan dalam menciptakan sebuah brand juga bisa jadi pilihan terbaik. Konten semacam ini akan membantu meningkatkan pengetahuan konsumen akan brand yang mereka sukai dan bisa menambah kepercayaan konsumen.

Advocacy marketing ini sangat mengandalkan konsumen yang Anda miliki, bukan hanya mereka yang merupakan big spender saja. Konsumen dengan pembelian kecil juga perlu diperhatikan karena mereka biasanya memiliki lifetime value yang lebih tinggi. Dan jika di-manage dengan baik, konsumen seperti ini juga bisa melakukan referral dengan lebih efektif karena mereka tahu benar siapa orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan produk Anda. Salah satu cara untuk mempertahankan konsumen seperti ini adalah dengan meningkatkan pelayanan dan memperhatikan kepuasan mereka dalam setiap pembelian.

Pada dasarnya, advocacy marketing akan bekerja dengan baik ketika sebuah brand mendapatkan tanggapan positif dari konsumen. Itulah mengapa penting bagi perusahaan untuk memastikan tidak ada konsumen yang merasa kecewa, baik itu karena pelayanan maupun kualitas produk atau jasa yang dijual.

 

Featured

Subscribe Here!