<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://q.quora.com/_/ad/cdf864df410c4a65a91da8ac8d6f477e/pixel?tag=ViewContent&amp;noscript=1">
Request a Demo

TADA Marketing & Customer Retention Blog

2 min read

Subscription Economy Mengubah Model Bisnis Lama dan Pola Investasi

.

Subscription e-commerce menjadi tren yang ramai di dunia bisnis saat ini. Selama lima tahun terakhit, pasar untuk subscription economy mengalami pertumbuhan hingga lebih dari 100 persen. Sementara, 71 persen orang dewasa menggunakan layanan subscription. Dari sinilah subscription menghasilkan uang yang bernilai besar dalam industri bisnis. Menurut laporan dari platform manajemen subscription Zuora, bisnis subscription mengalami kenaikan revenue hingga lima kali lebih cepat jika dibandingkan dengan perusahaan yang menjual produk barang, ini terjadi di Amerika serikat.

ilus20-07

Bagaimana Subscription Economy Mengubah Model Bisnis Tradisional

Kini, masanya sudah berubah. Perusahaan-perusahaan sudah mulai beranjak dari penjualan produk ke layanan jasa. Jadi, kalau dahulu subscription economy hanya diterapkan untuk layanan berlanganan musik, film, majalah, kini model bisnis tersebut sudah merambah ke bidang industri lainnya, di antaranya mobil, kosmetik, barang kebutuhan rumah tangga, jasa travel, dan masih banyak lagi. Jadi, subscription economy tidak hanya terbatas pada satu atau dua bidang industri saja. Kini sektornya sudah semakin melebar, dan tidak lagi berfokus pada produk, melainkan memusatkan penjualan pada sistem subscription untuk menjaga pertumbuhan revenue dalam jangka panjang.

Berdasarkan berbagai data statistik tentang subscription economy, terbukti bahwa model bisnis ini semakin efektif seiring berkembangnya dunia digital. Pesatnya perkembangan subscription economy ini menjadi faktor utama yang mengubah model bisnis lama, terutama di bidang retail. Dengan menjual produk yang berupa layanan, maka suatu bisnis dapat menciptakan customer loyalty yang akhirnya akan terus berlangganan, dan mendatangkan revenue secara kontinu. Perubahan ini sendiri paling dipengaruhi oleh perilaku konsumen terutama para milenial, yang lebih mengutamakan kemudahan akses layanan daripada kepemilikan. Artinya, orang-orane zaman sekarang lebih senang berlangganan atau ‘menyewa’ daripada harus membeli dan memiliki barang secara fisik.

Seperti Apa Model Bisnis Subscription Economy Sebenarnya?

Arus subscription economy mengubah sistem penjualan barang yang selama ini menjadi mindset. Sebagai hasilnya, seluruh bidang industri mengalami perubahan, bisnis mulai mengarahkan penjualannya kepda sistem sharing atau sewa. Ini berlaku untuk produk apapun, mulai dari pakaian, mobil, keperluan rumah tangga hingga elektronik. Contoh sederhananya, jika dahulu kita harus membeli kamera sendiri untuk berfoto-foto, kini ada banyak jasa penyewaan kamera yang bisa Anda sewa produknya sesuai dengan kebutuhan. Ibaratnya, dalam waktu dekat, model bisnis tradisional yang masih menjual barang akan “mandek”.

Subscription Mengubah Mindset Konsumen Serta Model Investasi

Orang-orang tidak lagi tertarik dengan nilai kepemilikan barang. Mindset lama tersebut sudah digantikan dengan keinginan untuk sharing atau subscribe atau sewa, yang jelas lebih mudah dan murah. Hal ini rupanya tidak hanya bisa menguntungkan bisnis dan konsumennya saja, tetapi juga investor maupun Anda yang ingin berinvestasi. Keuntungan terbesar yang bisa didapatkan investor yakni recurring income, yang menjadi sumber revenue, di mana ini membuat investasi bisnis Anda tumbuh secara cepat.

Tidak hanya itu saja, subscription juga membuat engagement antara bisnis Anda dan customer semakin meningkat. Customer akan merasa bahwa Anda memahami kebutuhan mereka, yang berarti bisnis subscription ini bisa Anda andalkan untuk memprediksi revenue secara akurat. Ada pun tantangan yang biasanya perlu Anda atasi yaitu acquisition. Ini karena customer bisa dengan cepat berpindah dari satu brand ke brand lainnya dalam model bisnis subscription. Jadi, kuncinya adalah selalu memberikan inovasi produk dan layanan yang memiliki value, serta dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen.

 

Clara Alverina
By Clara Alverina

I'm marketing enthusiastic and inherently understands that the customer is the single most valuable asset an organization can have, and driven by the unrelenting pursuit of customer-retention focus, engagement and customer experience.

Featured