
Program B2B loyalty berperan penting dalam membangun hubungan yang mutualdengan stakeholder atau channel partner di bisnis Anda, seperti distributor, retailer, anak buah toko hingga pemilik toko.
Namun, kenyataannya banyak program B2B loyalty yang berakhir gagal; tidak mencapai target partisipasi, engagement rendah, atau bahkan diabaikan sama sekali oleh channel partner.
Masalahnya bukan hanya soal budget atau reward yang kurang menarik, tapi seringkali karena tidak mengatasi hal fundamental yang membuat program jadi tidak mendapat traction yang diharapkan sejak awal.
Berikut adalah 6 engagement killer paling umum yang membuat program B2B loyalty gagal:
1. Kurangnya Value Proposition yang Jelas dan Menarik
Bayangkan seorang sales counter atau pemilik toko yang setiap hari sudah disibukkan dengan target penjualan, stok barang, dan melayan ipelanggan. Lalu datang program loyalty baru dari supplier dengan penawaran yang tidak jelas: "Ikut program kami dan dapatkan poin!"
Pertanyaannya: poin untuk apa? Berapa lama baru bisa ditukar? Apakah benar-benar worth it dibanding effort yang harus dikeluarkan?
Inilah masalah terbesar: value proposition yang tidak memukau atau tidak dikomunikasikan dengan jelas. Jika channel partner tidak langsung melihat "what's in it for me", program Anda sudah kalah sebelum dimulai.
Contoh value proposition program B2B loyalty yang efektif diantaranya mencakup:
-
-
-
- Penghematan biaya melalui diskon, program rebate, atau potongan harga khusus untuk pembelian dalam jumlah tertentu
- Akses ke produk, layanan, atau industry insight yang eksklusif dan terkini
- Dukungan khusus dan layanan yang personalized untuk membantu channel partner dalam menavigasi program loyalty Anda
-
-
Value proposition yang tidak jelas atau lemah seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Jika Anda tidak hati-hati, program B2B loyalty Anda bisa berakhir sia-sia dan tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Apa saja dampak buruknya?
-
-
-
- Channel partner tidak akan tertarik mendaftar dan ikut serta dalam program Anda. Mereka akan berpikir, "Untuk apa ikut program ini kalau tidak ada untungnya?"
- Channel partner akan menganggap program Anda tidak relevan dengan kebutuhan bisnis mereka. Mereka akan merasa, "Program ini bukan untuk saya."
- Sulit bagi Anda untuk mempertahankan engagement dan loyalitas channel partner dalam jangka panjang. Mereka akan mudah berpaling ke pesaing yang menawarkan program yang lebih menarik.
-
-
2. Komunikasi yang Tidak Efektif dan Tidak Konsisten
Program B2B loyalty tidak akan jalan jika hanya diumumkan sekali di awal, lalu didiamkan. Channel partner sibuk; mereka bisa lupa, tidak paham mekanismenya, atau bahkan tidak tahu kalau program masih berjalan.
Masalah komunikasi yang membuat program tidak mendapatkan traction yang diharapkan:
-
-
-
- Onboarding yang buruk: Partner tidak dijelaskan step-by-step cara kerja program saat registrasi. Mereka bingung bagaimana cara earn poin, cara cek saldo, atau cara redeem reward
- Tidak ada reminder atau update berkala: Setelah daftar, tidak ada komunikasi lanjutan. Partner lupa kalau mereka punya poin yang bisa ditukar
- Komunikasi yang generik dan membosankan: Email blast yang isinya sama untuk semua orang, tanpa personalisasi atau relevansi dengan kondisi mereka
- Bahasa yang terlalu formal atau teknis: Menggunakan istilah corporate yang tidak dipahami oleh sales counter atau pemilik toko kecil
- Tidak ada channel komunikasi yang accessible: Hanya mengandalkan app padahal target audience lebih aktif di WhatsApp
-
-
Lalu bagaimana strategi untuk meningkatkan komunikasi?
-
-
-
- Jadwal komunikasi rutin tapi relevan: Tetapkan jadwal komunikasi yang jelas dan konsisten, baik melalui email, newsletter, atau channel komunikasi lainnya.
- Personalisasi berdasarkan behavior: Partner yang aktif dapat reward spotlight, partner yang dormant dapat reactivation incentive
- Manfaatkan channel komunikasi yang beragam: Gunakan email, telepon, pertemuan virtual, atau pertemuan langsung untuk menjangkau channel partner dengan lebih efektif.
- Sediakan support yang responsif: Hotline, chat support, atau field team yang bisa membantu langsung
-
-
3. Struktur Program yang Kompleks dan Membingungkan
Ini adalah kesalahan fatal yang sangat umum: membuat program loyalty yang terlalu rumit hingga channel partner sendiri bingung cara kerjanya. Contoh struktur program yang bikin pusing:
-
-
-
- Sistem tier yang tidak jelas: "Anda harus beli 100 unit dalam 3 bulan untuk naik ke Gold tier, tapi pembelian produk kategori A tidak masuk hitungan, kecuali jika dibeli saat promo tertentu..."
- Mekanisme earn poin yang kompleks: Produk A dapat 10 poin, produk B dapat 5 poin, tapi kalau beli bundle dapat bonus 20%, dan jika transaksi di atas Rp1 juta dapat multiplier 2x...
- Syarat redeem yang ribet: Harus isi form, tunggu verifikasi 7 hari kerja, baru bisa tukar poin
- Terms & conditions yang panjang: 10 halaman syarat dan ketentuan yang tidak ada yang baca
-
-
Praktik terbaik dalam merancang struktur program B2B loyalty Anda adalah sebagai berikut:
-
-
-
- Buat kriteria untuk earn and burn mechanism yang mudah dipahami dan dipenuhi oleh channel partner, missal beli 10 dus gratis 1000 poin
- Buat level atau tier dengan syarat dan reward yang jelas dan menarik, serta buat proses penukaran poin ke hadiah jadi lebih mudah dan cepat
- Gunakan loyalty platform yang user-friendly untuk mengelola program dan memungkinkan channel partner untuk cek poin dan menukarkan hadiah langsung ditukar tanpa waiting period
- Sediakan panduan dan materi pendukung yang cukup untuk mengedukasi channel partner tentang manfaat program
-
-
4. Mengabaikan Personalisasi dan Relevansi Reward
Tidak semua channel partner itu sama. Distributor besar punya kebutuhan berbeda dengan retailer kecil. Sales counter Gen Z punya preferensi berbeda dengan pemilik toko senior.
Tapi banyak program B2B loyalty yang memberikan one-size-fits-all reward yang akhirnya tidak menarik untuk siapa-siapa.
Manfaat personalisasi jenis gameplay dan hadiah bagi channel partner dalam program loyalty Anda adalah sebagai berikut:
-
-
-
- Meningkatkan perceived value: Reward yang relevant terasa lebih berharga meskipun nominal value-nya sama
- Mendorong engagement yang lebih tinggi: Partner akan lebih termotivasi jika reward-nya sesuai dengan yang mereka inginkan
- Memperkuat emotional connection: Partner merasa "dimengerti" oleh brand
-
-
Strategi untuk melakukan personalisasi program loyalty yang efektif meliputi:
-
-
-
- Segmentasi yang jelas: Buat program tier atau kategori berdasarkan jenis partner (distributor, retailer, sales team) dengan reward yang disesuaikan
- Reward catalog yang beragam: Berikan banyak pilihan dari berbagai kategori: cashback, voucher, produk fisik, pengalaman, training
- Customizable rewards: Biarkan partner memilih sendiri reward yang mereka mau dari katalog
- Behavioral targeting: Partner yang sering beli produk kategori A dapat promo khusus untuk kategori tersebut
-
-
5. Kurangnya Data Analytics dan Optimization
Banyak program B2B loyalty dijalankan "asal jalan" tanpa benar-benar diukur efektivitasnya. Hasilnya: program berjalan tanpa arah, tidak tahu apa yang berhasil dan apa yang gagal, dan tidak ada improvement dari waktu ke waktu.
Tanda-tanda kurangnya data utilization yaitu:
-
-
-
- Tidak tahu participation rate yang sebenarnya: Berapa persen dari total partner yang aktif? Berapa yang dormant?
- Tidak bisa identify high-value partners: Siapa saja partner yang paling berkontribusi? Siapa yang butuh extra attention?
- Tidak ada insight tentang redemption pattern: Reward apa yang paling diminati? Reward apa yang tidak pernah ditukar?
- Tidak bisa detect early warning signs: Partner yang mulai churn tidak terdeteksi hingga mereka benar-benar pergi
- Tidak tahu ROI program: Berapa rupiah yang dikeluarkan vs berapa rupiah incremental sales yang dihasilkan?
-
-
Lalu, mengapa analytics penting untuk program B2B loyalty?
-
-
-
- Mengukur efektivitas program: Apakah program benar-benar mendorong sales atau hanya membuang budget?
- Optimisasi terus-menerus: Data memberikan insight untuk memperbaiki program secara iteratif
- Identifikasi opportunity: Menemukan segmen partner yang underperforming tapi punya potensi besar
- Prediksi behavior: Menggunakan data historis untuk memprediksi tren dan mengantisipasi kebutuhan partner
- Justifikasi investasi: Menunjukkan ROI yang jelas kepada stakeholder internal
-
-
Apa yang bisa dilakukan dengan analisis data?
-
-
-
- Partner segmentation: Bagi partner berdasarkan value, behavior, dan engagement level untuk treatment yang lebih targeted
- Churn prediction: Identifikasi partner yang berisiko churning dan buat retention campaign
- Reward optimization: Analisis redemption data untuk tahu reward mana yang paling efektif mendorong behavior yang diinginkan
- Performance benchmarking: Bandingkan performa program dengan industry benchmark atau KPI internal
- A/B testing: Test berbagai pendekatan (messaging, reward, mekanisme) untuk tahu mana yang paling efektif
-
-
6. Platform atau Teknologi yang Buruk dan Tidak User-Friendly
Di era digital ini, partner expect pengalaman teknologi yang smooth seperti saat mereka pakai aplikasi e-commerce atau social media. Jika program loyalty Anda lambat, sering error, atau susah dipakai, partner akan cepat frustrasi dan abandon progam tersebut completely.
Contoh masalah teknologi yang jadi engagement killer,misalnya:
-
-
-
- App atau website yang lemot: Loading lama, sering crash, atau tidak responsive
- UX/UI yang membingungkan: Menu tidak intuitif, terlalu banyak klik untuk sampai ke tujuan, atau design yang outdated
- Tidak mobile-friendly: Partner kebanyakan akses dari HP, tapi program koyalty hanya dioptimasi untuk desktop
- Sering error atau bug: Poin tidak masuk, transaksi tidak tercatat, atau fitur redeem tidak jalan
- Proses login yang ribet: Harus login ulang setiap kali, password sering lupa, tidak ada fitur "remember me"
-
-
Best practice untuk program loyalty yang user-friendly:
-
-
-
- Mobile-first design: Prioritaskan pengalaman mobile karena mayoritas user akan akses dari smartphone
- Simple navigation: Maksimal 3 klik untuk sampai ke fungsi utama (cek poin, redeem reward, lihat katalog)
- Fast loading: Optimize untuk loading time di bawah 3 detik, bahkan di koneksi internet yang lambat
- Clear visual hierarchy: Informasi penting (saldo poin, reward yang bisa ditukar) harus prominent dan easy to spot
- WhatsApp integration: Manfaatkan WhatsApp sebagai platform loyalty karena semua partner sudah menggunakannya setiap hari. Partner bisa cek poin, dapat notifikasi transaksi, browse katalog reward, bahkan redeem langsung lewat chat WhatsApp; tanpa perlu download app atau buka website. Ini mengurangi friction secara drastis dan meningkatkan engagement karena partner tidak perlu keluar dari aplikasi yang sudah familiar
-
-
Wrap up!
Program B2B loyalty yang gagal biasanya bukan karena satu faktor saja, tapi kombinasi dari beberapa engagement killer di atas. Masalahnya sering kali bermula dari kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan riil channel partner dan eksekusi program yang tidak matang.
Tada menawarkan solusi end-to-end untuk membantu Anda mengatasi berbagai challenge dalam mengelola program B2B loyalty untuk industriapa pun. Dengan loyalty & rewards platform kami yang dilengkapi dengan analytics dashboard, flexible reward catalog, dan seamless integration, Anda dapat meningkatkan efisiensi, personalisasi, dan ROI program secara signifikan.
Request demo kami sekarang untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana Tada dapat membantu bisnis Anda membangun program B2B loyaltyyang sesuai dengan kebutuhan unik bisnis Anda.
