12 Tantangan Retensi Toko Ritel Bagi Principal dan Solusinya

Topics:

Sep 1, 2024 • 8 min read

Common Retail Store Retention Challenges

Bagi principal, tantangan terbesar dalam distribusi hari ini bukan lagi sekadar memasukkan produk ke toko ritel, melainkan menjaga agar produk tersebut terus diprioritaskan.

Di tengah persaingan rak yang semakin padat, keputusan pemilik toko sering kali tidak didasarkan pada harga atau produk semata, tetapi pada hubungan jangka panjang yang mereka rasakan dengan sebuah brand.

Tantangan yang Sering Dihadapi

Berbagai faktor dapat memengaruhi keputusan toko ritel untuk memprioritaskan atau mengabaikan produk Anda. Oleh karena itu, penting bagi principal untuk memahami dinamika yang terjadi di pasar agar dapat terus mempertahankan toko ritel sebagai mitra strategis. Berikut diantaranya: 

1. Kurangnya Inovasi Produk

Toko ritel hidup dari perputaran produk. Ketika portofolio produk tidak berkembang, retailer kesulitan menjaga ketertarikan konsumen. Dalam jangka panjang, brand yang stagnan akan tergeser oleh produk yang lebih relevan dengan tren pasar.

2. Harga Tidak Kompetitif

Harga yang lebih tinggi tanpa diferensiasi nilai membuat retailer berada di posisi sulit. Mereka harus menjelaskan ke konsumen atau menerima penurunan penjualan. Akibatnya, produk yang lebih mudah dijual akan mendapat prioritas.

3. Margin Keuntungan yang Tidak Menarik

Retailer menjalankan bisnis, bukan sekadar mendistribusikan produk. Jika margin terlalu tipis, loyalitas akan cepat terkikis. Dalam kondisi ini, brand dengan margin lebih sehat akan lebih diutamakan.

4. Ketersediaan Produk yang Tidak Konsisten

Out-of-stock bukan hanya masalah penjualan, tetapi juga kepercayaan. Ketika pasokan tidak stabil, toko dipaksa mencari alternatif lain dan sering kali alternatif tersebut menjadi pilihan permanen.

5. Komunikasi yang Kurang Efektif

Retailer membutuhkan informasi yang jelas dan tepat waktu. Minimnya update mengenai produk, promo, atau kebijakan baru membuat toko merasa diabaikan dan menurunkan kepercayaan terhadap brand.

6. Pengalaman Logistik yang Buruk

Pengiriman terlambat atau barang rusak langsung berdampak pada operasional toko. Dalam jangka panjang, retailer akan memilih supplier yang konsisten dan minim risiko, meskipun harganya sedikit lebih tinggi.

7. Program Insentif yang Tidak Terstruktur

Insentif tanpa mekanisme yang jelas sering kali gagal mendorong perilaku yang diinginkan. Retailer tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan manfaat lebih, sehingga program kehilangan efektivitasnya.

8. Reward yang Tidak Transparan

Ketidakjelasan reward menciptakan rasa tidak adil. Ketika retailer merasa usaha mereka tidak sebanding dengan apresiasi yang diterima, motivasi untuk memprioritaskan brand pun menurun.

9. Potensi Fraud dalam Program Reward

Program reward manual rawan disalahgunakan. Dalam banyak kasus, insentif justru dinikmati pihak tertentu, sementara toko kecil tidak merasakan manfaat yang dijanjikan. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama rusaknya loyalitas.

10. Minimnya Dukungan Penjualan dan Material Display

Tanpa materi display dan edukasi produk yang memadai, retailer kesulitan menjual secara aktif. Produk pun kalah bersaing di rak, meskipun kualitasnya baik.

11. Kualitas Produk yang Tidak Konsisten

Retailer menanggung risiko reputasi di mata konsumen. Ketika kualitas produk tidak stabil, mereka cenderung mengurangi ketergantungan pada brand tersebut demi menjaga kepercayaan pelanggan.

12. Program Loyalty Anda Tidak Lagi Menarik bagi Pemilik Toko

Program loyalty yang tidak diperbarui akan kehilangan daya tarik. Tanpa sistem yang fleksibel, adil, dan relevan, program loyalty justru berubah menjadi beban administratif, bukan alat retensi.

Lalu, Apa yang Perlu Dilakukan Principal?

Do B2B Loyalty Programs Work

Menghadapi tantangan-tantangan di atas, principal membutuhkan pendekatan yang lebih strategis; bukan hanya mengandalkan produk atau harga, tetapi membangun ekosistem yang membuat retailer merasa dihargai, didukung, dan untung secara konsisten.

1. Implementasikan Program B2B Loyalty yang Transparan dan Terukur

Masalah terbesar dari program loyalty tradisional adalah ketidakjelasan dan potensi fraud. Solusinya adalah digitalisasi program reward dengan platform yang:

      • Tracking otomatis setiap transaksi – Tidak ada lagi pencatatan manual yang rawan manipulasi
      • Real-time visibility – Retailer bisa lihat poin mereka kapan saja, transparan dan fair
      • Reward yang jelas dan dapat dipilih – Bukan undian atau sistem yang membingungkan, tapi katalog reward yang bisa mereka pilih sendiri
      • Fraud prevention built-in – Sistem mendeteksi anomali dan memastikan reward sampai ke tangan yang tepat

Platform loyalty seperti Tada dirancang khusus untuk mengatasi masalah ini, dengan sistem yang scalable dan terintegrasi dengan distributor atau principal's tech stack.

2. Diversifikasi Reward Beyond Cash

Margin tipis adalah realita di banyak industri. Tapi loyalty bukan hanya soal margin, tapi soal value yang dirasakan. Principal bisa memberikan:

      • Gift vouchers multi-merchant – Lebih fleksibel dari produk fisik, lebih bermakna dari diskon
      • Training dan upskilling – Retailer yang lebih terlatih = sales yang lebih baik
      • Early access ke produk baru – Membuat mereka merasa special dan punya advantage
      • Marketing support materials – Display, poster, atau konten digital yang membantu mereka jual lebih banyak

3. Bangun Komunikasi Dua Arah yang Konsisten

Retailer bukan sekadar channel, mereka adalah partner. Principal perlu:

      • Regular updates via WhatsApp atau platform messaging – Informasi promo, produk baru, atau stok terbaru harus real-time
      • Dedicated channel manager atau hotline – Ada yang bisa mereka hubungi saat ada masalah
      • Feedback loop – Dengarkan keluhan mereka tentang logistik, produk, atau program loyalty dan respond cepat

4. Optimalkan Supply Chain dan Logistik

Out-of-stock atau pengiriman terlambat adalah trust killer. Principal harus:

      • Invest in demand forecasting – Hindari stockout di produk fast-moving
      • Partner dengan distributor yang reliable – Atau perbaiki internal logistics
      • Komunikasikan proaktif jika ada delay – Lebih baik mereka tahu lebih awal daripada kaget saat toko kosong

5. Tawarkan Margin dan Term yang Kompetitif (Atau Value Alternatives)

Jika margin tidak bisa dinaikkan, kompensasi dengan:

      • Payment terms yang lebih fleksibel – Konsinyasi atau kredit yang lebih panjang
      • Volume-based incentives – Semakin banyak order, semakin besar reward
      • Bundling promotions – Kombinasi produk dengan margin lebih baik

6. Continuously Innovate Product Portfolio

Retailer butuh produk yang easy to sell. Principal harus:

      • Listen to market trends – Apa yang konsumen cari? Apa yang kompetitor lakukan?
      • Launch limited editions atau seasonal products – Menciptakan urgency dan excitement
      • Retire produk yang underperform – Jangan memaksa retailer jual produk yang tidak laku

7. Gunakan Data untuk Decision Making

Dengan platform loyalty digital, principal mendapat akses ke behavioral data yang powerful:

      • Retailer mana yang paling loyal?
      • Produk mana yang paling sering mereka push?
      • Program reward mana yang paling efektif?

Data ini membantu principal personalize approach dan allocate resources ke retailer yang paling strategic.

Wrap up! Dari Transactional ke Relational

Menjaga prioritas produk di toko ritel bukan lagi soal siapa yang kasih harga paling murah atau margin paling besar. Ini soal siapa yang bikin mereka merasa dihargai, didukung, dan untung secara konsisten.

Program loyalty yang transparan, reward yang bermakna, komunikasi yang efektif, dan supply chain yang reliable adalah kombinasi yang bikin retailer milih brand Anda di tengah persaingan yang padat. Ingin membangun program B2B loyalty yang transparan dan efektif  untuk retailer Anda? Tada menyediakan platform loyalty yang scalable, fraud-proof, dan terintegrasi dengan sistem distribusi Anda. Request demo kami sekarang!  

Request Our Demo

Profile

Nuraini

Content marketing specialist