<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://q.quora.com/_/ad/cdf864df410c4a65a91da8ac8d6f477e/pixel?tag=ViewContent&amp;noscript=1">
Request a Demo

Tada Loyalty & Customer Retention Blog

6 min read

7 Peluang Industri FMCG di Indonesia untuk Terus Tumbuh di 2022

.

Industri Fast-moving Consumer Goods (FMCG) merupakan salah satu industri utama Indonesia dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi nasional. 

Industri FMCG Indonesia (2)

Selama pandemi COVID-19, FMCG menjadi salah satu industri di Indonesia yang tidak begitu terpengaruh. Indonesia mencatat perubahan positif secara keseluruhan dalam nilai pasar FMCG sebesar 8,8% year-on-year pada kuartal ketiga tahun 2020.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang industri ini, mari kita lihat lanskap pasar FMCG di Indonesia dan peluang pasar FMCG di tahun 2022 melalui artikel ini.

Artikel ini membahas:

  1. Tinjauan industri FMCG di Indonesia selama pandemi
  2. Peluang Industri FMCG Indonesia 2022

Prospek pasar FMCG dan dampak pandemi COVID-19

Sebagai salah satu pasar FMCG yang pertumbuhannya paling cepat di Asia Tenggara, pasar FMCG Indonesia terus berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan dan perubahan gaya hidup. Hingga kuartal ketiga tahun 2020, orang Indonesia membelanjakan 19% dari total pengeluaran rumah tangga mereka untuk produk FMCG.

Pada kuartal ketiga tahun 2020, segmen makanan menunjukkan perubahan yang paling signifikan, dengan rata-rata belanja konsumen per perjalanan meningkat di semua segmen FMCG. Dalam hal distribusi, ritel tradisional merupakan saluran penjualan terpenting produk FMCG di Indonesia, dengan pangsa pasar 67% pada kuartal ketiga tahun 2020.

 

Industri FMCG Indonesia (3)Industri FMCG Indonesia didominasi oleh baik perusahaan multinasional maupun lokal. Perusahaan multinasional seperti Unilever Indonesia telah merevitalisasi industri dengan menawarkan lebih banyak pilihan produk kepada konsumen Indonesia, dari produk perawatan pribadi hingga bahan makanan. Pelaku pasar lokal seperti Indofood telah membuktikan bahwa produk lokal dapat bersaing dengan baik di sektor FMCG. 

Pada tahun 2019, salah satu produknya, Indomie, menduduki peringkat nomor satu merek FMCG terkemuka di tanah air, dengan tingkat penetrasi sekitar 99% di rumah-rumah Indonesia. Selain itu, penjualan bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk terus meningkat sejak tahun 2014, yang berkontribusi pada pertumbuhan pasar FMCG yang berkelanjutan.

Mengingat perilaku konsumen Indonesia terhadap konsumsi produk FMCG selama pandemi COVID-19, prospek pasar FMCG domestik tetap kuat. Selina itu, semua segmen FMCG mencatat perubahan signifikan di segmen perawatan rumah, produk susu, dan perawatan pribadi, dengan perubahan positif dalam rata-rata pembelian konsumen per trip. 

COVID-19 telah menyebabkan peningkatan aktivitas belanja online. Sebelumnya, konsumen berbelanja di marketplace hanya untuk kebutuhan sekunder; Kini, konsumen juga berbelanja kebutuhan primer dengan memanfaatkan marketplace atau e-commerce

Peluang Industri FMCG Indonesia 2022

Industri FMCG Indonesia (4)

Berikut adalah tren tahun 2022 yang dapat Anda pertimbangkan untuk industri FMCG di Indonesia.

1. Produk Kesehatan dan Kebersihan Semakin Diminati

Di masa pandemi, produk kesehatan dan kebersihan tidak diragukan lagi menjadi hot item di kalangan konsumen. Situasi ini memberikan keuntungan bagi perusahaan FMCG yang memiliki produk kesehatan dan kebersihan pada lini produknya.

Jadi kali ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk meluncurkan produk baru dengan proposisi nilai anti bakteri atau produk kesehatan yang lebih umum. Anda juga dapat menambah inovasi baru ke produk yang sudah ada untuk memastikan nilainya bagi pelanggan sekaligus meningkatkan market share perusahaan.

2. Migrasi ke Saluran Digital

Padahal, pada awal 2020, pertumbuhan industri secara keseluruhan menunjukkan angka yang positif. Namun, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan dugaan pertama virus corona (COVID-19) di Indonesia pada 2 Maret 2020, terjadi perubahan peta industri dan navigasi permintaan masing-masing perusahaan. Tren bisnis FMCG pun juga berubah.

Pada triwulan II (Q2), Produk Domestik Bruto (PDB) secara makro menghadapi tantangan yang luar biasa karena mengalami penurunan sebesar 5,2%. Pada triwulan III (Q3) kondisi semakin tergerus karena aktivitas industri jadi terbatas akibat penerapan PPKM.

Gerai-gerai ritel Fast Moving Consumer Goods (FMCG), baik modern maupun tradisional, semakin sepi. Masyarakat lebih memilih menghindari keramaian agar tidak tertular virus. Sebaliknya, konsumen mulai melirik toko online untuk berbelanja kebutuhan pokok. Kini, memasuki tahun kedua pandemi, dengan varian omicron, sebagian besar konsumen tetap tetap memilih berbelanja online.

3. Pembayaran QRIS untuk Pembayaran Contactless & Lebih Cepat

Untuk alasan keamanan dan kebersihan, transaksi contactless lebih diminati oleh konsumen saat ini. Menyeimbangkan tren bisnis FMCG online, perusahaan retail produk FMCG pun mengusung konsep pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Metode QRIS sama dengan metode QR Code pada umumnya. QRIS telah ditetapkan menjadi standarisasi pembayaran dari Bank Indonesia (BI). Tujuannya agar proses transaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan aman. Orang pasti akan lebih memilih metode pembayaran digital yang aman dan mudah. Dengan demikian, jika melihat tren saat ini, pembayaran non tunai akan jadi pilihan pembayaran yang populer kedepannya.

4. Tren Belanja Grosir

Semakin beragamnya saluran penjualan yang ditawarkan ritel, baik melalui outlet maupun online, ternyata akan mengubah gaya konsumsi masyarakat. Sebelum adanya pandemi, masyarakat lebih memilih berbelanja untuk kebutuhan pokok atau sesuai dengan kebutuhannya saat ini.

Tren belanja online akan mempengaruhi gaya konsumsi dan tentunya tren bisnis FMCG karena masyarakat akan cenderung berbelanja dalam jumlah banyak sambil berbelanja kebutuhan pokok. Apalagi dengan adanya diskon dan promo yang diberikan oleh retailer FMCG.

Penjualan grosir dari pengecer FMCG juga akan mendukung gaya ini; membeli dalam jumlah banyak akan mendapatkan harga yang jauh lebih murah. Pengecer online akan aktif memberikan diskon dan promo bagi konsumen yang membeli dalam jumlah tertentu.

5. Merek Lokal Food and Beverage (F&B) Akan Meningkat

Industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terkena dampak pandemi COVID-19, termasuk juga industri Food and Beverage (F&B). Meski masyarakat sangat membutuhkan sektor ini, namun masih terjadi penurunan konsumsi pada triwulan I 2020. Misalnya, produk konsumsi rumah tangga mengalami penurunan dari 5,02% menjadi 2,84% selama triwulan I (Q1).

Namun, pada akhir tahun 2020, pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 7,97%. Artinya dalam kondisi pandemi pun masyarakat masih mencari produk FMCG di industri Food and Beverage (F&B).

Pada tahun 2022, diperkirakan akan lebih banyak merek lokal di industri F&B yang diharapkan dapat menggantikan ketergantungan pada produk impor. Jika hal ini terjadi, maka akan lebih menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia karena kebutuhan tenaga kerja akan meningkat sekaligus meningkatkan pendapatan bagi negara.

6. Otentikasi dan Brand Value

Selera konsumen tidak lagi diukur berdasarkan puas atau tidaknya konsumen terhadap suatu produk atau merek. Namun, mereka akan dilihat dari analisis keuangan dan juga pemasaran. Tren otentikasi FMCG dan brand value akan membuat banyak merek FMCG terlihat otentik dan memiliki nilai unik. Dengan begini, setiap merek FMCG diprediksi punya tempat tersendiri di hati pelanggannya.

7. Saham FMCG Akan Jadi Incaran

Tahun 2022 akan mengarah pada tren investasi saham yang lebih mengutamakan industri FMCG, terutama untuk perusahaan yang menjual produk makanan dan minuman. Tantangan ekonomi akibat pandemi diprediksi menunjukkan tanda-tanda yang membaik; dari perlambatan hingga pemulihan.

Tanda-tanda pemulihan terlihat dari rasio konsumsi seluruh lapisan konsumen yang mulai meningkat pada September 2020 lalu. Rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 67,4% menjadi 68,8%.

KESIMPULAN

Produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) akan tetap dicari meski ancaman pandemi virus corona masih menghantui masyarakat. Untuk kemudahan akses pemenuhan permintaan pasar, semua hal sudah tersedia, misalnya dengan banyaknya toko online yang akhir-akhir ini mendukung pembayaran instan dan sistem pengiriman yang cepat.

Jika melihat prospek dan tren saat ini, bisa dikatakan bisnis FMCG adalah tetap memiliki peluang terbaik untuk terus tumbuh. Namun, akan lebih baik untuk memiliki dukungan yang kuat untuk memaksimalkan penjualan produk Anda.

TADA telah membantu banyak bisnis dalam hal menyediakan platform yang bisa terintegrasi ke website atau aplikasi perusahaan dalam hal retensi pelanggan hingga employee engagement. Kami berkomitmen untuk membantu Anda memutuskan strategi dan inisiatif yang tepat untuk mencapai tujuan bisnis Anda. Request demo sekarang!

Request a Demo

Topics: fmcg

Nuraini
By Nuraini

Content marketing specialist

Featured