
Dalam dunia FMCG dan retail, ada dua jenis strategi marketing yang sering disalahpahami sebagai hal yang sama: trade marketing dan consumer marketing. Padahal, keduanya punya tujuan, audiens, dan pendekatan yang sangat berbeda.
Memahami perbedaan ini bukan hanya penting untuk marketer, tapi juga untuk brand yang ingin mengoptimalkan budget marketing dan memaksimalkan distribusi produk.
Mari ketahui secara mendalam perbedaan keduanya, kapan menggunakan masing-masing strategi, dan bagaimana keduanya bisa bekerja bersama untuk kesuksesan brand.
Apa Itu Trade Marketing?
Trade marketing adalah strategi marketing yang fokus pada channel partner; distributor, wholesaler, retailer, sales canvasser dan semua pihak yang berada di jalur distribusi sebelum produk sampai ke tangan konsumen akhir.
Tujuan utamanya adalah memastikan produk Anda:
-
-
- Masuk ke rak toko (distribution)
- Mendapat posisi strategis (shelf placement)
- Diprioritaskan oleh retailer (sell-in)
- Tersedia secara konsisten (stock availability)
-
Trade marketing berfokus pada B2B relationship. Anda tidak bicara langsung ke konsumen, tapi ke pihak yang akan menjual produk Anda ke konsumen.
Contoh Aktivitas Trade Marketing:
-
-
- Trade promotion (diskon untuk retailer, bukan konsumen)
- Display materials (poster, standee, wobbler di toko)
- Trade shows atau pameran B2B
- Loyalty program untuk retailer atau distributor
- Merchandising support (penempatan produk di gondola end atau eye-level shelf)
- Co-marketing dengan retailer besar (misal: joint promo dengan Indomaret atau Alfamart)
-
Apa Itu Consumer Marketing?
Consumer marketing adalah strategi marketing yang fokus langsung pada end consumer; orang yang akan membeli dan menggunakan produk Anda.
Tujuan utamanya adalah:
-
-
- Menciptakan awareness tentang brand atau produk
- Membangun desire untuk membeli
- Mendorong pembelian (sell-out)
- Membangun loyalty agar repeat purchase
-
Consumer marketing adalah B2C relationship. Anda berbicara langsung ke konsumen untuk memengaruhi keputusan pembelian mereka.
Contoh Aktivitas Consumer Marketing:
-
-
- Iklan TV, radio, digital ads
- Social media campaigns dan influencer marketing
- Consumer promotions (buy 1 get 1, cashback, voucher)
- Sampling atau trial campaigns
- Brand activation di mall atau event
- Content marketing (blog, video, tutorial)
- Email marketing dan CRM
-
Perbedaan Utama: Trade Marketing dan Consumer Marketing
|
Aspek |
Trade Marketing |
Consumer Marketing |
|
Target Audiens |
Distributor, wholesaler, retailer, pemilik toko, sales lapangan, dll |
End consumer / pembeli akhir |
|
Tujuan Utama |
Sell-in (masuk ke toko), shelf priority, availability |
Sell-out (keluar dari toko), brand awareness, purchase intent |
|
Fokus Strategi |
B2B relationship building |
B2C brand building |
|
Metrics Keberhasilan |
Distribution coverage, shelf share, retailer satisfaction, sell-in volume |
Brand awareness, market share, sales volume, customer loyalty |
|
Channel Komunikasi |
Sales team, trade shows, distributor meetings, loyalty platform |
TV, digital ads, social media, influencers, events |
|
Jenis Promosi |
Trade discounts, margin incentives, listing fees, merchandising support |
Consumer discounts, vouchers, cashback, buy 1 get 1 |
|
Timeline |
Biasanya long-term (kontrak, partnership, program tahunan) |
Bisa short-term (campaign-based) atau long-term (brand building) |
|
Budget Allocation |
Margin untuk trade, program loyalty, display materials |
Media buying, production costs, influencer fees |
Mengapa Trade Marketing dan Consumer Marketing Sama Pentingnya
Banyak brand melakukan kesalahan dengan hanya fokus pada satu sisi:
-
Skenario 1: Fokus Hanya pada Consumer Marketing
Brand menghabiskan budget besar untuk iklan TV dan influencer. Awareness meningkat tajam, konsumen tertarik membeli; tapi produk tidak tersedia di toko. Konsumen frustrasi, akhirnya beli brand kompetitor yang ada di rak.
Hasil: Budget marketing terbuang sia-sia karena distribusi lemah.
-
Skenario 2: Fokus Hanya pada Trade Marketing
Brand berhasil masuk ke ribuan toko, dapat posisi shelf yang bagus; tapi konsumen tidak tahu produk ini ada. Tidak ada pull demand dari konsumen, jadi retailer tidak termotivasi untuk restock atau prioritaskan produk.
Hasil: Produk menumpuk di toko, slow-moving, akhirnya delisted.
Strategi yang Benar: Push & Pull Strategy
-
-
- Trade Marketing = PUSH strategy → Mendorong produk masuk ke channel distribusi
- Consumer Marketing = PULL strategy → Menarik konsumen untuk mencari dan membeli produk
-
Ketika keduanya bekerja bersama:
-
-
- Trade marketing memastikan produk ada di toko dengan posisi strategis
- Consumer marketing menciptakan demand sehingga konsumen aktif mencari produk
- Retailer melihat produk laku keras, mereka happy, dan makin prioritaskan produk Anda
- Cycle berulang: availability tinggi → awareness tinggi → sales tinggi → retailer loyalty meningkat
-
Kapan Menggunakan Trade Marketing?
Trade marketing lebih prioritas ketika:
1. Brand Baru atau Produk Baru Launching
Sebelum konsumen bisa beli, produk harus ada di toko dulu. Trade marketing memastikan distribusi luas sejak awal.
2. Kompetisi Ketat di Shelf Space
Di kategori dengan banyak kompetitor (misal: susu, snack, minuman), trade marketing membantu Anda dapat posisi shelf yang lebih baik dari kompetitor.
3. Produk dengan Low Awareness
Jika konsumen belum aware, mereka tidak akan aktif mencari. Trade marketing memastikan ketika konsumen lihat produk di toko (impulse buying), mereka tertarik karena packaging atau posisi strategis.
4. Channel yang Fragmented
Di Indonesia, banyak toko tradisional (warung, toko kelontong). Trade marketing dengan distributor dan sub-distributor menjadi kunci untuk reach ribuan outlet kecil ini.
5. Retail Partnership Strategy
Jika Anda ingin kolaborasi dengan modern trade (Indomaret, Alfamart, Transmart), trade marketing mengelola relationship dan co-marketing campaign dengan retailer besar ini.
Kapan Menggunakan Consumer Marketing?
Consumer marketing lebih prioritas ketika:
1. Brand Sudah Punya Distribusi yang Solid
Ketika produk sudah tersedia luas, saatnya meningkatkan awareness dan trial rate dengan consumer campaigns.
2. Kategori dengan High Involvement Purchase
Produk yang butuh edukasi atau consideration (misal: skincare, suplemen, elektronik) memerlukan consumer marketing yang kuat untuk memengaruhi keputusan.
3. Building Brand Equity
Untuk membedakan brand dari kompetitor, consumer marketing membangun emotional connection dan brand perception yang kuat.
4. Produk dengan High Margin
Jika margin cukup besar untuk support iklan dan campaign, consumer marketing bisa drive demand yang significant.
5. Direct-to-Consumer (D2C) Model
Untuk e-commerce atau direct selling, consumer marketing adalah primary channel karena Anda langsung interact dengan end consumer.
Wrap up!
Trade marketing dan consumer marketing bukan pilihan yang saling meniadakan. Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama, dan brand yang sukses adalah yang tahu bagaimana mengalokasikan resources dengan tepat untuk keduanya.
Rule of thumb:
-
-
- Brand baru? Prioritaskan trade marketing dulu untuk build distribution, baru consumer marketing untuk build awareness.
- Brand established? Balance antara keduanya; trade marketing untuk maintain shelf priority, consumer marketing untuk sustain demand.
- Budget terbatas? Fokus ke trade marketing dengan approach yang cost-efficient (loyalty program digital, merchandising smart) sambil leverage organic consumer marketing (social media, word-of-mouth).
-
Yang terpenting: measure, optimize, repeat. Gunakan data untuk lihat mana yang deliver ROI paling tinggi, dan adjust strategy accordingly.
Ingin membangun trade marketing strategy yang lebih efektif dengan loyalty program yang transparan dan terukur? Tada menyediakan platform yang membantu brand manage retailer loyalty, track performance, dan optimize trade spend. Request demo kami untuk mengetahui lebih lanjut.
