8 Jenis Program Loyalty yang Paling Umum untuk Customer

Topics:

Jan 23, 2024 • 14 min read

Jenis Loyalty Program untuk Customer

Jika Anda sedang membangun strategi retensi customer, pertanyaan muncul biasanya "apakah brand kita perlu punya program loyalty?" tapi yang benar adalah "jenis loyalty program mana yang paling cocok untuk bisnis saya?"

Hal ini karena tidak semua program loyalty bekerja dengan cara yang sama. Sebuah coffee shop indie dan sebuah supermarket nasional bisa sama-sama punya loyalty program, tapi strukturnya akan sangat berbeda, dan keduanya bisa sama-sama berhasil, asalkan dipilih sesuai konteks.

Angka-angka pun bicara. Peluang Anda untuk menjual ke existing customer mencapai 60–70%, dibandingkan hanya 5–20% untuk prospek baru (sumber: Marketing Metrics). Dan peningkatan retensi customer sebesar 5% saja berkorelasi dengan kenaikan profit sebesar 25% (sumber: Bain & company). Artinya, investasi pada loyalty program bukan sekadar biaya marketing, tapi adala adalah lever pertumbuhan yang terukur.

Berikut ada 8 jenis loyalty program yang paling umum digunakan untuk customer (B2C), lengkap dengan cara kerja,  dan contohnya.

1. Points-Based Program

Ini adalah bentuk loyalty program yang paling banyak dikenal. Mekanismenya sederhana: setiap kali customer bertransaksi, mereka mengumpulkan poin. Poin tersebut bisa ditukar dengan diskon, produk gratis, voucher, atau reward lainnya.

Contoh:

      • Setiap Rp 10.000 transaksi akan mendapatkan 1 poin
      • 500 poin dapat ditukar ke voucher diskon Rp 50.000

Kenapa efektif?

Model ini menciptakan habit loop yang kuat: transaksi → reward → transaksi lagi. Sebanyak 60% konsumen usia 18–24 tahun menyukai points-based loyalty program, dan 20% di antaranya menyatakan akan berhenti berbelanja jika program tersebut dihapus (sumber: Deloitte).

Customer yang tahu poin mereka sedang "menumpuk" cenderung kembali bertransaksi ke toko yang sama daripada berpindah ke kompetitor, bahkan jika harga sedikit lebih mahal.

Contoh program loyalty jenis ini:

      • Member Alfamart — salah satu program poin terbesar di Indonesia dengan jutaan member aktif
      • Starbucks Rewards — poin berbasis star/bintang yang bisa ditukar makanan, minuman gratis dan merchandise.

Cocok untuk:

Bisnis dengan frekuensi transaksi tinggi, seperti retail, F&B, marketplace.

2. Tiered / VIP Program

Jika points-based program fokus pada akumulasi, tiered program fokus pada status. Customer dikategorikan ke dalam level-level (biasanya Bronze → Silver → Gold → Platinum) berdasarkan total spending atau engagement mereka.

Contoh:

      • Bronze: 0–500.000 total spending/bulan
      • Silver: 500.001–2.000.000
      • Gold: 2.000.001 ke atas

Setiap naik tier, benefit yang didapat semakin eksklusif, mulai dari priority service, early access produk baru, birthday reward, sampai dedicated customer support.

Kenapa efektif?

Manusia secara natural termotivasi oleh status. Tiered program mengeksploitasi psikologi ini dengan cara yang positif: customer bukan hanya mengejar reward, tapi juga identitas ("Saya member Gold"). Efek ini sangat kuat untuk mendorong peningkatan spending organik.

Data Gartner juga menunjukkan bahwa customer yang merasa dihargai 82% lebih besar kemungkinannya untuk melakukan repeat order, bahkan ketika ada pilihan beralih ke brand lain.

Contoh program loyalty jenis ini:

      • Garuda Miles — tier Bronze, Silver, Gold, dan Platinum dengan benefit berbeda di setiap level
      • Hotel loyalty programs (Marriott Bonvoy, Accor Live Limitless) — tier yang membuka akses kamar upgrade, late checkout, special deals untuk F&B dan lounge access

Cocok untuk:

Bisnis dengan customer lifetime value tinggi, misalnya travel, hospitality, fashion, dan keuangan.

3. Cashback Program

Cashback adalah program yang paling transaksional dan paling mudah dipahami: belanja sekian, dapat kembali sekian. Tidak perlu mikir soal poin atau tier karena langsung terasa benefitnya.

Contoh:

      • Belanja Rp 100.000 dapatkan cashback Rp 5.000 ke saldo/dompet digital
      • Cashback bisa langsung digunakan untuk transaksi berikutnya

Kenapa efektif?

Cashback mengurangi perceived cost dari sebuah transaksi. Ketika customer tahu mereka akan dapat sebagian uangnya kembali, ambang batas untuk memutuskan beli menjadi lebih rendah. Ini juga salah satu alasan kenapa cashback sangat populer di platform keuangan dan marketplace.

Sebanyak 70% konsumen terbukti lebih banyak berbelanja dan lebih sering berinteraksi dengan brand yang menawarkan program loyalty (sumber: Deloitte) dan cashback adalah salah satu bentuk yang paling mudah dimengerti lintas segmen demografis.

 Contoh program loyalty jenis ini: 

      • GoPay Cashback — cashback berbasis nominal untuk transaksi di merchant tertentu
      • Credit card rewards — sebagian besar kartu kredit premium di Indonesia menawarkan cashback 1–5% untuk kategori spending tertentu

Cocok untuk:

Fintech, perbankan, marketplace, dan bisnis apapun yang mau mendorong repeat transaction dengan cara paling straightforward.

4. Stamp / Punch Card Program

Mungkin terdengar old-school, tapi stamp card adalah salah satu bentuk loyalty program yang masih banyak digunakan. Konsepnya simpel: beli X kali, dapat 1 gratis.

Contoh misalnya:

      • Beli 9 cup kopi → cup ke-10 gratis
      • Bisa dalam format kartu fisik atau digital (via app)

Kenapa efektif?

Ada fenomena psikologis menarik di balik punch card, yang disebut "endowed progress effect": ketika customer merasa sudah "separuh jalan" menuju reward, mereka lebih termotivasi untuk menyelesaikannya.

Ini kenapa beberapa bisnis bahkan memberikan 2 stamp gratis di awal; agar customer langsung merasa memiliki progress.

Catatan penting:

Versi digital dari stamp card jauh lebih powerful karena bisa dikombinasikan dengan push notification ("Anda tinggal 1 stamp lagi!") dan data tracking. Digital loyalty program terbukti dapat meningkatkan engagement hingga 47% karena lebih mudah diakses dan lebih interaktif dibanding versi fisik (sumber: PassKit).

Cocok untuk:

F&B, barbershop, laundry, dan bisnis lain dengan transaksi repetitif dan ticket size relatif kecil.

5. Paid Membership Program / Subscription

Berbeda dari loyalty program lainnya yang bersifat gratis, paid membership justru meminta customer untuk membayar di muka agar bisa menikmati benefit eksklusif.

Contoh:

      • Bayar Rp 50.000/bulan atau Rp 500.000/tahun
      • Dapatkan akses ke free shipping, diskon eksklusif, konten premium, atau layanan prioritas

Kenapa efektif?

Secara kontra-intuitif, paid membership justru menciptakan loyalitas yang lebih kuat. Mengapa? Karena customer yang sudah membayar akan actively seek cara untuk mendapatkan nilai dari keanggotaan mereka yang mendorong mereka untuk lebih sering bertransaksi. Ini disebut sunk cost loyalty, dan ketika dikombinasikan dengan benefit yang genuine, hasilnya sangat powerful.

Data CIRP 2024 menunjukkan bahwa Amazon Prime member rata-rata menghabiskan $1.170 per tahun di Amazon, dibandingkan hanya $570 untuk non-member; hampir dua kali lipat lebih banyak (sumber: Capital One Shopping Research).

Contoh program loyalty jenis ini:  

      • Amazon Prime — benchmark global untuk paid membership; retention rate-nya mencapai 93% setelah tahun pertama dan 98% setelah tahun kedua (sumber: Marketing Scoop)
      • Shopee VIP — akses ke voucher khusus member berbayar, gratis ongkir, digital subscription dan lainnya.

Cocok untuk:

Marketplace, aplikasi streaming, SaaS, dan bisnis yang bisa menawarkan benefit nyata yang terasa lebih besar dari fee yang dibayarkan.

6. Referral Program

Program loyalty tidak selalu soal mempertahankan customer yang ada, tapi juga mengubah mereka menjadi pengakuisisi customer baru. Itulah esensi dari referral program.

Cara kerja umum:

      • Customer mendapatkan unique referral code
      • Setiap teman yang daftar/belanja menggunakan kode tersebut → customer original dan teman baru sama-sama dapat reward

Kenapa efektif?

Word-of-mouth adalah channel akuisisi paling efektif dan paling dipercaya. karena memanfaatkan kepercayaan yang sudah ada. Ketika customer merasa diapresiasi karena merekomendasikan brand, mereka juga makin terikat secara emosional.

Contoh program loyalty jenis ini:  

      • Gojek, Tokopedia, dan hampir semua aplikasi besar Indonesia pernah atau masih menjalankan referral program aktif di fase growth mereka
      • Model "invite friend, both get discount" yang sangat umum di banyak aplikasi

Cocok untuk:

Bisnis berbasis aplikasi, marketplace, SaaS, dan produk/layanan yang memiliki social element di dalamnya.

7. Gamifikasi

Jenis loyalty program yang satu ini meminjam elemen dari dunia game; misi, badge, leaderboard, streak, dan mengaplikasikannya ke pengalaman berbelanja atau berinteraksi dengan brand.

Cara kerja umum:

      • Selesaikan 3 transaksi minggu ini untuk unlock bonus poin
      • Jadilah 10 pembeli pertama hari ini → badge eksklusif + hadiah
      • Daily login streak akan diberikan bonus reward

Kenapa efektif?

Gamifikasi bekerja karena menyentuh kebutuhan psikologis yang lebih dalam: rasa pencapaian, kompetisi, dan rasa ingin tahu. Gamification terbukti meningkatkan customer engagement hingga 47% dan brand loyalty sebesar 22% (sumber: Propellocloud).

Sebanyak 43% brand saat ini sudah mengintegrasikan gamification ke dalam strategi loyalty mereka, dan 70% di antaranya melaporkan peningkatan signifikan dalam customer engagement (sumber: Open Loyalty).

Contoh program loyalty jenis ini:  

      • Duolingo (di luar retail, tapi benchmark gamification terbaik) dengan streak dan leaderboard
      • Grab Rewards yang menggabungkan misi harian dengan poin ekstra

Cocok untuk:

Bisnis yang ingin meningkatkan engagement frekuensi bukan hanya transaksi, terutama efektif untuk generasi muda yang terbiasa dengan game mechanics.

8. Coalition / Multi-Partner Program

Berbeda dari program loyalty yang dikelola satu brand untuk customer-nya sendiri, coalition program membangun ekosistem yang lebih luas: beberapa brand bergabung dalam satu platform loyalty yang sama, sehingga member bisa mengumpulkan poin di banyak merchant dan menukarkannya ke berbagai brand sesuai keinginan mereka.

Contoh:

      • Belanja di supermarket → dapat poin
      • Poin yang sama bisa dipakai untuk beli tiket bioskop, voucher restoran, atau diskon di toko fashion partner
      • Semua dalam satu akun, satu aplikasi

Kenapa efektif?

Coalition program menjawab salah satu kelemahan terbesar dari single-brand loyalty program: poin yang susah ditukar karena pilihannya terlalu terbatas. Ketika member punya fleksibilitas untuk redeem di banyak tempat, nilai yang mereka rasakan dari program tersebut jauh lebih besar dan motivasi untuk terus mengumpulkan poin pun ikut meningkat.

Dari sisi brand, bergabung ke coalition program membuka akses ke basis member yang sudah ada tanpa harus membangun program dari nol. Ini sangat menguntungkan terutama untuk brand yang belum memiliki frekuensi transaksi tinggi sendiri tapi ingin tetap relevan di benak customer secara rutin.

Contoh program loyalty jenis ini:  

      • Rewards program maskapai dan bank — poin kartu kredit yang bisa ditukar ke miles, hotel, merchant, atau hadiah di ekosistem partner yang luas
      • Star Alliance Rewards – kumpulkan miles dari 26 maskapai member yang tergabung dalam Star Alliance, diantaranya Singapore Airlines, Lufthansa dan banyak lainnya.

Cocok untuk:

Umumnya program ini paling efektif diterapkan pada industri dengan frekuensi transaksi tinggi dan ekosistem yang luas, seperti retail & FMCG, mall & commercial property, F&B, e-commerce & marketplace, telco & digital services, banking & financial services, transportation & mobility, serta travel & hospitality.

Industri-industri ini memiliki banyak touchpoint dalam customer journey dan melibatkan berbagai brand atau merchant, sehingga kolaborasi dalam satu sistem loyalty memungkinkan pelanggan mengumpulkan dan menukarkan poin secara lebih fleksibel, sekaligus menciptakan value yang lebih besar dibandingkan jika setiap brand berjalan sendiri.

Wrap up!

Tidak ada satu jenis loyalty program yang "terbaik secara universal." Yang ada adalah jenis yang paling sesuai dengan profil customer, model bisnis Anda, dan tujuan bisnis yang sedang dikejar.

Dalam banyak kasus, kombinasi dua atau lebih jenis program justru memberikan hasil terbaik. Program loyalty yang berkinerja terbaik terbukti mampu meningkatkan revenue dari customer yang aktif menggunakannya sebesar 15–25% setiap tahunnya (sumber: McKinsey).

Jika Anda sedang merancang atau mengoptimasi loyalty program untuk bisnis, Tada bisa menjadi partner yang tepat. Tada membantu brand merancang dan menjalankan program loyalty yang bisa dikustomisasi sesuai jenis program yang paling relevan untuk customer base Anda; dari points dan tier sampai reward management yang terintegrasi. Request demo kami sekarang!

Request Our Demo

Profile

Nuraini

Content marketing specialist